semakin hari semakin kurasakan diri yg bagai tiada arti,semakin hari semakin menjadinya diri,ketidak yakinan,ketidak suka,ketidak mau tahu,ketidak mau mengerti,ketidak mau memahami,ketidak mau berpikir akan akibat yang telah aku lakui.
betapa sombongnya diri,betapa egoisnya diri,betapa angkuhnya diri
aku juga tak mengerti apa sih tujuan hidupku,kenapa selalu tidak mau mensyukuri yg tlah ada.
apakah karena ketidak kepercayaan diri,ketidak yakinan diri yang selalu membuatku bimbang disetiap langkah yg aku lalui.
ketika aku menyadari semuanya itu, tapi hati ini tak mau luluh begitu saja,tak mau mengalah walo sedikit saja,entah hati serasa bagai batu,sedangkan batu saja bisa terkikis oleh air,tapi kenapa hatiku tak punya rasa iba sedikitpun.
tak ingin buat kecewa,tapi aku sungguh tak berdaya,bukan aku tak mau bukan aku tak sayang,tapi entah kenapa hati dan diri ini suka berdiam,yang terkadang tidak puas dngn apa yg aku punya dan yg kau punya.
kenapa aku sering tidak menyukai yang ada, tentang kamu.dan aku sering tidak mendengar apa ucapmu,terkadang juga sering aku merasa muak dengan suaramu.serasa ingin menyudahi obrolan kita.mungkin karna sekarang ini aku tidak menyukaimu dan kenapa itu terjadi aku juga tidak tau.
aku merasa begitu sangat tidak menyukaimu,hanya karna ucapmu dulu dan kesombongan mu dulu yang tak mau memahami.dan juga kau karena ketidak yakinanmu pada diriku.kau ucapkan pertanyaan yang sangat mencekik leherku..tapi kenapa aku dulu bisa menerima kamu dan pertanyaanmu.tapi sekarang knp sebaliknya.yang sangat sangat sangat tidak menyukaimu.
kenapa semua orang memandangmu baik tapi kenapa dengan aku tidak.kenapa semua orang menyukaimu tapi kenapa mereka memandang aku hanya seorang wanita yang "kakean polah".
tidak sedikit aku mendengar tentang kau adalah org baik,patheng,jujur,hura neko neko.tidak seprti anak muda jaman sekrang.sehingga org tua yang mempunyai ank perempuan sering memujimu.
aku tidak tau apa inginku sekarang,kenapa aku tak memperdulikanmu lagi.aku hanya mendiamimu tanpa ada alasan jelas.aku merasa sakit hati padamu tapi km juga tak mengerti.kau minta penjelasan kenapa akupun tak tau mau jawab apa.
ketika kau bicara aku sungguh tak mau mendengar.tapi kenapa jika orrang lain yang kasih nasehat padaku aku lebih senang dan mau mendengar.betapa egoisnya aku,aku sadari tapi aku tak mau peduli.
aku yang sekarang buknlah seperti dulu yg mau menerima apa adanya kamu.dan skarang aku sulit untuk menerima,memahamimu.
hai kau yang menyayangiku,mencintaiku aku ingin bertanya..
andaikan kita tidak berjodoh apakah kau akan membenciku seperti mereka yang knl aku sebelum kamu...............................
apakah kau akan kecewa dengan semuanya ini..................
karena sekarang ini aku tak mau memikirkan org sekitar kita andaikan kita........................
karena selama ini aku sembunyi dari kekecewaanku.dari kesedihanku.
tapi apa mungkin bisa aku bertanya padamu seperti itu.....
kenapa aku tak bisa menjadi diriku sendiri..........................

Kebahagiaan seseorang sesungguhnya tidak bisa diukur dan dinilai dengan materi atau dengan apa pun yang ia miliki dan kuasai. Kebahagiaan yang hakiki hanya bisa dirasakan oleh hati, jiwa dan perasaan mereka sendiri. Ketika kita melihat orang lain terlihat bahagia dengan apa yang mereka miliki, kita hanya bisa menyaksikan kebahagiaan mereka dari luar saja. Sedangkan apa yang mereka rasakan sesungguhnya, tidaklah kita mengetahuinya. Apakah ia memang benar-benar bahagia ataukah semuanya hanyalah sikap semu karena melindungi statusnya saja. Mungkin hal itu tidaklah perlu kita untuk mengetahuinya. Yang penting bagi kita adalah bagaimana kebahagiaan yang hakiki itu dapat kita genggam.
BalasHapusKesenangan dunia adalah mata panahnya syaitan bagi kaum wanita, sedangkan wanita dan kekuasaan adalah mata panahnya syaitan bagi kaum laki-laki (Allahu ‘Alam bi Showab). Hal inilah yang menimbulkan suatu persoalan yang mungkin bisa kita kaji lebih dalam dan kita bisa memaknai apa yang sedang terjadi pada diri mereka. Ketika manusia telah dirasuki kemegahan dunia, mereka yang lalai dan jauh dari petunjuk-Nya akan tertutup mata hatinya dan akan diselimuti dengan kegelapan yang nyata.
Ketika berbagai permasalahan menimpa kita, kita akan berusaha untuk mengatasi permasalahan itu dengan bersusah payah. Ketika bencana menerpa kita, kita pun akan melepaskan diri dari kesusahan yang berkepanjangan. Andai kita bisa memilih hanya pada sisi kebaikan, maka kita tentunya ingin hidup selamanya berada dalam kesenangan. Bila jiwa dan raga bisa bicara, tentunya ia akan memilih untuk bahagia dunia dan akhirat.
Di balik semua permasalahan hidup, sebagian orang menginginkan sebuah penghargaan. Penghargaan yang didambakan dan impikan adalah sebagai wujud dari kepribadian diri kita sendiri. Ketika penghargaan belum datang, mereka mencari sensasi demi ketenaran dan popularitas. Dan ketika penghargaan datang, mereka dengan angkuhnya bahwa ia telah mendapatkan penghargaan atas jerih payah dan usahanya. Adalah hal yang manusiawi jika manusia butuh penghargaan, karena manusia mempunyai nafsu. Tapi apakah kita akan menjadi budak nafsu selamanya?